Tipologi-tipologi Berdasarkan Konstitusi

Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kepribadian Anak

Dosen Pengampu : Marsudi, M.Pd

 

 

 

Disusun oleh :

 

Putri Wulan Ramadani                   (11144600093)

Nur Chanif Muflichah           (11144600097)

Choirunnisa Salisun Najati   (11144600109)

Dwi Yuli Setiasih                    (11144600110)

Dwi Indrawati                        (11144600112)

 

 

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

2012

Tipologi-Tipologi yang Berdasarkan Konstitusi

  1. A.    TIPOLOGI MAZHAB  ITALI

Tipologi-tipologi konstitusional yaitu tipologi-tipologi yang terutama disusun atas dasar konstitusi. Pada akhir abad XIX sejumlah ahli-ahli di Italia yang bekerja dalam bidang penyelidikan mengenai variasi tubuh manusia mendirikan satu nazhab yang kemudian terkenal dengan mazhab Italia tau mazhab Marfologi. Tokoh utama mazhab ini ialah De-Giovani dan Viola.

  1. Teori De-Giovani: Hukum Deformasi

Pada tahun 1880 De-Geovani menerbitkan karyannya yang berjudul Marfologi del Carppo Umano. Dalam buku tersebutdia merumuskan hukum deformasi, yang berisikan penggolongan variasi tubuh manusia. Secara singkat pendapat De-Geovani tersebut adalah bahwa ada tiga macam variasi tubuh manusia:

  1. Orang dengan togok (Jawa: gembung, Inggris: trunk) kecil cenderung untuk mempunyai bentuk tubuh yang panjang, yang mempunyai hubungan dengan habitus phthisis.
  2. Orang dengan togok besar cenderung untuk mempunyai cenderung untuk mempunyai bentuk tubuh pendek, yang mempunyai hubungan dengan habitus apoplectic.
  3. Orang-orang dengan togok normal cenderung untuk mempunyai proporsi badan yang normal.

Pendapat De-Giocvani ini merintis jalan kea rah penyelidikan-penyelidikan yang lebih meluas dan mendalam, yang antara lain dikerjakan oleh Kretschmer.

  1. Tipologi Viola

Berdasarkan atas bahan-bahan penyelidikan serta teori  De-Giovani tersebut, Viola dalam penyelidikan-penyelidikannya kemudian berhasil menemukan adanya tiga golongan bentuk tubuh manusia, yaitu:

  1.  Microplanchnis, yaitu bntuk tubuh yang ukuran-ukuran menegaknya lebih daripada dalam perbandingan biasa, sehingga tubuh kelihatan jangkung.
  2. Macrosplanchnis, yaitu bentuk tubuh yang ukuran-ukuran menegak dan mendatarnya selaras, sehingga tubuh kelihatan selaras.
  3. Normosplanchnis, yaitu bentuk tubuh yang ukuran-ukuran menegak dan mendatarnya selaras, sehingga tubuh kelihatan selaras.

Pendapat ini ternyata banyak sekali persamaanya dengan pendapat Krechmer yang dikemukakan beberapa waktu kemudian. Rava, seorang pendukung mazhab Italia yang lebih kemudian menemukan, bahwa:

  1. Penderita-penderita neurasthenia dan psychasthenia kebanyakan terdapat pada golongan microsplanchis
  2. Penderita-penderita manis-depresif kebanyakan terdapat pada golonganmicrosplachnis.

Selanjutnya perlu pula kiranya dikemukakan pendapat mazhab Italia mengenai sebab-musabab variasi tubuh manusia itu. Mazhab Italia berpendapat, bahwa varias atau bermacam-ragamnya keadaan jasmani manusia itu berakar pada keturunan, jadi tergantung kepada  dasar yang dibawa sejak lahir, dan dengan demikian tak dapat diubah oleh pengaruh dari luar.*)

  1. B.       MARFOLOGI KONSTITUSIONAL: MAZHAB PERANCIS

Pada waktu yang bersamaan dengan timbul dan berkembanganya mazhab Italia, di Perancis terdapat pula kegiatan yang serupa, yaitu kegiatan dalam penyelidikan mengenai variasi tubuh manusia, yang dilakukan oleh sekelompok ahli dibawah pimpinan Sigaud.  Mazhab ini terkenal dengan Mazhab Perancis atau Mazhab Marfologi Konstitusional, atau sebaliknya dapat disebut: Marfologi konstitusional mazhab Perancis.

Dalam mengadakan penggolongan-penggolongan manusia atas dasar keadaan jasmaninya kategori yang dipakainya sebagai dasar ialah dominasi sesuatu fungsifisiologi didalam pertumbuhan organism. Sigaurd berpendapat bahwa organisme manusia beserta Anomalie-anomalinyaharus dimengerti sebagai fungsi daripada dasar dan sekitar (lingkungan, miliu): jadi ada kerjasama antar dasar dan sekitar. Pada setiap system ada unsure sekitar yang meminkan peranan terhadap organisme dan secara langsung itu. Sekitar yang bermacam-macam itu pada pokoknya dapat digolongakan menjadi empat macam, yaitu:

  1. Ada sekitar yang berwujud udara yang menjadi sumber dari pada reaksi-reaksi respitotaris.
  2. Ada sekitar yang berwujud makan-makanan yang menimbulkan reaksi-reaksi digestif.
  3. Ada sekitar yang berwujud keadaan alam yang menjadi dasar reksi-reaksi muskuler.
  4. Ada sekiatar yang berwujud keadaan social yang menimbulkan reksi-reksi cetebral.

Salah seorang pengikut Sigaud, yaitu Mac Auliffe menebitkan monograf sebagai hasil-hasil penyelidiakannya dengan nama La Vie Humaine (1923). Mac Auliffe mengadakan penyelidikan mengenai bagaimana keempat tipe konstitusional seperti yang dikemukakan diatas itu berkembang karena pengaruh keturunan (dasar) sekitar. Menurut Mac Auliffe keturunan telah ada, yang selanjutnya berkembang karena pengaruh sekitar. Dalam prakteknya sekitarlah yang dianggap menentukan dalam diferensiasi tipe-tipe tersebut, atau dengan kata lain variasi atau bermacam-ragamnya keadaan jasmani manusia itu ditentukan oleh sekitar, misalnya:

  1. Dalam daerah yang mewah banyak terdapat tipe digestif.
  2. Tipe rispatoris banyak terdapat di daerah pegunungan dan daerah pertanian.
  3. Tipe muskuler terutama terdapat di daerah-daerah yang menghendaki kekuatan jasmani.
  4. Tipe cerebral terutama terdapat di kota-kota.
  5. C.      MORFOLOGI KONSTITUSIONAL DI JERMAN: TIPOLOGI KRESTSCHER
  6. Masalah Istilah
  7. Konstitusi (Constitution)

Keseluruhan (totalitas) segala sifat-sifat individual yang berdasarkan keturunan, disebut dengan faktor keturunan atau endogen dan tidak dapat diubah oleh pengaruh dari luar.

  1. Tempramen

Merupakan konstitusi kejiwaan, turun temurun, dan tidak dapat diubah oleh pengaruh dari luar. Tempramen mempengaruhi dia macam kualitas kejiwaan, yaitu:

      i.                   Suasana hati (Stimmung)

    ii.                   Tempo psikis

  iii.                   Watak (Character dalam Arti Deskriptif, Jadi Kepribadian)

  iv.                   Konstitusi Jasmaniah

Kretschmer menggolongkan manusia atas dasar bentuk tubuhnya menjadi 4, yaitu:

  1. Piknis (Stenis)
  2. Leptosom (Asthenis)
  3. Atletis
  4. Displastis
  5. Tipe Piknis

-        Ukuran mendatar lebih dari keadaan biasa, sehingga kelihatan pendek gemuk.

# Sifat-sifat khas:

-        Badan agak pendek

-        Dada membulat, perut besarm bahu tidak lebar

-        Leher pendek dan kuat

-        Lengan dan kaki adak lemah

-        Kepala agak merosot ke muka diantara kedua bahu

-        Banyak lemah, sehingga otot-otot dan tulang-tulang tak kelihatan nyata

  1. Tipe Leptosom

-        Ukuran menegak lebih dari keadaan biasa, sehingga tubuh kelihatan jangkung.

# Sifat-sifat khas:

-        Badan langsing kurus

-        Rongga dada kecil sempit pipih, rusuknya mudah dihitung, perut kecil, bahu sempit

-        Lengan dan kaki kurus

-        Tengkorak agak kecil, tulang-tulang di bagian muka kelihatan jelas

-        Muka bulat telur

-        Berat relatif kurang

  1. Tipe Atletis

-        Ukuran mendatar dan menegak dalam perbandingan seimbang, sehingga tubuh kelihatan selaras, tipe ini merupakan perpaduan antara piknis dan leptosom.

# Sifat-sifat khas:

-        Tulang-tulang, otot kulit kuat

-        Badan kokoh dan tegap

-        Tinggi kecukupan

-        Bahu lebar dan kuat

-        Dada besar dan kuat

-        Perut kuat

-        Panggul ddan kaki kuat, dalam perbangingan dengan bahu dan dada kelihatan agak kecil

-        Tengkorak cukup besar dan kuat, kepala dan leher tegak

-        Muka bulat telur, lebih pendek daripada tipe leptosom

  1. Tipe Displastis

-        Tipe penyimpangan dari konstitusi normal.

-        # Sifat-sifat khas:

-        Tipe-tipe lebih nyata pada pria

-        Pertentangan antara piknis dan leptosom

-        Terdapat ada orang yang mengalami gangguan jiwa maupun pada orang sehat

  1. Konstitusi Kejiwaan (Tempramen)

Kraepelin menggolongkan penderita psikosis menjadi dua golongan, yaitu:

-        Dementia praecox, yang kemudian disebut schizophrenia oleh Bleuler

-        Manis depresif (circulair)

à golongan ini sifat jiwanya selalu berubah-ubah, merupakan siklus atau lingkaran, yaitu dari sifat manis (giat, buas) ke sifat depresif (lemah, tak berdaya) kembali ke manis lagi lalu berubah menjadi depresif, dst.

Manusia berdasarkan atas tempramennya (manusia yang sehat) dibedakan menjadi dua golongan atau tipe, yaitu:

  1. Schizothym

-        Sukar mengadakan kontak dengan dunia sekitarnya

-        Suka mengasingkan diri

-        Ada kecenderungan ke arah autisme

-        Menutup diri sendiri

Dapat disebut juga supra tipe, karena dalam tipe ini dimasukkann sejumlah golongan tertentu, yaitu:

  1. Die vernehm Feinsinnigen
  2. Die weltfremden Idealisten
  3. Die kuhlen Herrenstruren und Egoisten
  4. Die Trockenen und Loahmen
  5. Cyclothym

-        Mudah mengadakan kontak dengan sekitar

-        Mudah bergaul

-        Mudah menyesuaikan diri dengan orang lain

-        Mudah turut merasa akan suka dan duka

-        Jiwanya terbuka

Tipe ini mencakup pula sejumlah golongan tertentu, yaitu:

  1. Die geschwatzig Heitern
  2. Die ruhigen Humoristen
  3. Die stillen Gemutsmenschen
  4. Die bequenen Genieazer
  5. Die tatkraftigen Praktiker

-        Penderita schizophrenia

Golongan ini masih hidup di antara orang-orang lain, tetapi seperti telah mrengubur dirinya sendiri, mereka tidak lagi suka menghiraukan apa-apa yang ada disekitarnya, mereka kehilangan kontak dengan dunia luar dan seolah-olah hidup untuk dan dengan dirinya sendiri (autisme).

d. Korelasi antara konstitusi (Jasmani) dan Temperamen

Di dalam Korperbau und Character Kretschmer mengemukakan hasil penyelidikannya, bahwa ada korelasi positif antara bentuk tubuh dan temperamen, baik pada penderita penyakit jiwa maupun pada orang yang sehat.

          i.               Pada penderita penyakit jiwa

Mengenai saling hubungan antara konstitusi dan penyakit jiwa (sifat-sifat psikis) para penderita dapat diikhtiarkan sebagai tabel berikut ini (lihat Tabel 7). Dari tabel tersebut itu dapat ditarik kesimpulan bahwa memang ada saling hubungan yang nyata antara bentuk tubuh tertentu dengan jenis penyakit tertentu, yaitu :

(1)     Penderita-penderita manis depresif kebanyakan bertubuh piknis, dan

(2)     Penderita-penderita schizoprenia kebanyakan bertubuh leptosom, atletis dan dysplastis.

TABEL 7.

Pada penyelidikan yang lebih kemudian, Kretschmer memperoleh data sebagai berikut (Kretschmer, 1950, p. 175).

(1) Dari 1505        penderita epilepsi terdapat:

Piknis

5,5 %

Leptosom

25,1 %

Atletis

28,9 %

Dysplastis

29,5 %

Tak dapat dikatan

11 %

 

(2) Dari 5233        penderita schizophrenia terdapat:

Piknis

13,7 %

Leptoson

50,3 %

Atletis

16,9 %

Dysplastis

10,5 %

Tak dapat dikatakan

8,6 %

(3) Dari 1361        penderita manis-depresif terdapat:

Piknis……………………………..        64,5 %

Leptoson………………………..         19,2 %

Atletis…………………………….        6,7 %

Dysplastis……………………….         1,1  %

Tak dapat dikatakan…………        8,4 %

  1. Pada orang normal

Kretschmer melakukan penyelidikan pada orang normal dalam jumlah yang banyak sekali dan — seperti telah dikemukakan dia menemukan bahwa pada orang normal ada korelasi semacam yang terdapat pada para penderita gangguan jiwa itu, kendatipun kurang jelas tampaknya. Saling hubungan tersebut dapat diikhtisarkan dengan tabel berikut:

TABEL 8. Saling hubungan antara konstitusi dan temperamen

Konstitusi

Temperamen

Piknis

Cyclothym

Leptosom

 

Athletis

Schtizothym

Dysplastis

 

Tabel 8 itu harus dibaca demikian:

(1)     Orang yang berkonstitusi piknis kebanyakan bertemperamen cyclothym, atau orang-orang yang bertemperamen cyclothym kebanyakan berkonstitusi piknis.

(2)     Orang-orang yang berkonstitusi leptosom, atletis dan dysplastis kebanyakn bertemperamen schizothym, atau orang-orang yang bertemperamen schizothym kebanyakan berkonstitusi leptosom, atau atletis, atau dysplastis.

e.  Pengaruh Teori Kretschmer

1. Sementara orang diantara murid-murid Kretschmer mengadakan penyelidikan secara mendalam untuk mengetahui sampai sejauh manakah kiranya saling hubungan antara tipe-tipe kostitusional tersebut dengan kriminalitas. Di bawah ini adalah beberapa dari hasil karya dalam lapangan ini:

(1) Michel        : korerbau Character und Verbrechen

(2) Bokmer      : untersuchungen uber den korperbau des Verbrechers

(3) Rield          : Ueber Beziehungen geistig-korperlicher konstitusi zur kriminalitar

 (b) Banyak ahli-ahli yang lebih kemudian mengambil pendapat kretschmer itu; juga pada orang-orang yang bukan ahli pendapat kretschmer cukup terkenal.

Dalam pada pantas pula dikemukakan bahwa:

(1)     Pendapat Kretschmer itu sebenarnya juga merupakan pendapat ahli-ahli yang lain; ahli-ahli selain kretschmer juga menemukan hal yang sama seperti yang diketemukan oleh kretschem, tetapi merumuskannya secara lain.

(2)     “supra-tipe” kretschem biasanya dikritik sebagai hal yang lemah. Hal yang heterogen dikelompokan jadi satu.

(3)     Keberatan yang umum dikemukakan ialah pendapat bahwa orang yang sehat dan orang yang menderita gangguan jiwa hanay berbeda secara kuantitatif.

  1. D.      PSIKOLOGI KONSTITUSI DI AMERIKA SERIKAT: TEORI W.H SHELDON

1. Situasi Ilmiah

Sejak lama ada pendapat, sifat-sifat jasmaniah itu merupakan aspek-aspek pokok daripada kepribadian. Umum sekali orang berpendapat, bahwa orang yang gemuk itu peramah dan lamban, bahwa orang yang jangkung itu pemalu, orang yang hitam setia, dan sebagainya. Kecuali pendapat orang kebanyakan terseb ut juga banayk sarjana-sarjana yang berpendapat seperti itu, misalnya Lavater (1804, Physiognomi) Gall dan Spurzheim (1809, Phrenologi). Juga penyelidik-penyelidik yang berpendapat seperti itu, misalnya:Rostan, Viola, Siguad, Naccaratti, dan yang terkenal sekali Kretschmer. Berpendapat , bahwa tingkah laku yang mencerminankan kepribadian itu dalam banyak hal bersangkutan dengan keadaan jasmani yang terdapat di Amerika Serikat, pendapat semacam itu tidak banyak yang mengikut, bahkan banyak yang kurang menerima. Hasil karya William H. Sheldon merupakan hasil yang besar dalam situasi ilmiah yang demikian itu.

Menurut Sheldom, konstitusi adalah aspek aspek individu yang relatif tetap tak berubah-ubah—morphologi, psikologi, fungsi kelenjar buntu, dan sebagainya—dan dapat dilawankan dengan aspek yang relatif labil dan mudah bermodifikasi karena tekanan-tekanan lingkungan, seperti kebiasaan, sikap sosial, kegemaran dan sebagainya. Dalam uraian ini istilah konstitusi dipakai dalam arti seperti yang dikemukakan oleh Sheldom itu.

  1. Riwayat Hidup William H. Sheldon       

Sheldin dilahirkan oada tahun 1899 di Warwick, Rhode Island dan dibesarkan di sana pula, dalam suasana pertanian. Suasana pedesaan dan hubungannya yang erat dengan ayahnya—seorang naturalis dan peternak—besar pengaruhnya terhadap pandanganya mengenai manusia. Bahkan sampai dewasa ini tulisan-tulisannya menunjukan perhatiannya terhadap dunia hewan. Dia mendapat pendidikan di public shcool, kemudian masuk Brown University, dan dia disana mendapat gelar B.A. (1919). Kemudian mendapat gelar M.A. dari Universitas Colorado dan Ph. D dalam psikologi dari Universitas Chicago pada tahun 1926. Dari tahun 1924 sampai 1926 dia menjadi instruktur dalam psikologi di Universitas Chicago. Tahun 1926 sampai 1927 menjadi guru besar penbantu di Universitas Wisconsin. Setelah menyelesaikan pelajarannya dalam bidang kedokteran, dia bekerrja di rumah sakit kanak-kanak di Chicago dan kemudian mendapat beasiswa untuk belajar psikiatri diluar negeri selama dua tahun. Sebagian besar waktun belajarnya yang dua tahun itu digunakan pada C.G. Jung di Zurich; tetapi dia juga datang pada Kretschmer. Pada tahun 1936 dia kembali ke Amerika Serikat dan diangkat sebagai guru besar psikologi di Universitas Chicago. Dalam tahun 1938 pindah ke Hiarvard sampai pecah perang dunia II. Pada tahun 1947 Sheldon diangkat menjadi Direktur Laboratorium Konstitusi pada College of Physician and Surgeons, Un Columbia, menggantikan George Draper, yaitu perintis dari lapangan constitusional medicine. Tulisan-tulisan Sheldon menunjukan ada usaha yang giat pada untuk menentukan dan menggambarkan komponen-komponen struktur dari pda tubuh manusia serta komponen komponen pokoknya (Sheldon, 1942) dan mennggunakan penemuan-penemuan itu pada bidang kejahatan (kenakalan) anak-anak (Sheldon, 1949).

Karena pendidikan yang bermacam-macam itu, maka sukarlah untuk menandai tokoh mana yang terutama berpengaruh terdapat perkembangan pendapat Sheldon. Namun, baik pada tulisan-tulisannya maupun dalam ceramah-ceramahnya terlihat pengaruh ahli-ahli psikologi konstitusional yang terdahulu, terutama Kretschmer dan Viola. Selanjutnya juga terdapat pengaruh Freud dan Jung. Sarjana Amerika Serikat sendiri yang berpengaruh terhadapnya ialah W. James. Pendidikan dalam bidang kedokteran serta pengalaman kecilnya dengan hewan mencermin dalam perhatian terdapat faktor-faktor biologis dan keturunan dalam tingkah laku.

Selanjutnya kerja samanya dengan S.S Stevens yang mengutamakan cara-cara penyelidikan yang teliti dan pengukuran-pengukuran juga berpengaruh terhadap Sheldon.Dalam teori Sheldon dapat dikemukakan, bahwa struktur jasmani merupakan yang utama berpengaruh terhadap tingjat laku manusia. Dalam pada itu dia mendapatkan sejumlah variabel obyektif yang sapat dipakai untuk menggambarkan jasmani dan tingkah laku. Selanjutnya caranya mengukur struktur jasmani dengan foto-foto yang telah dibuat standarnya merupaka hal yang penting dipandang dari segi metodologi. Adapun yang menjadi landasan sikapnya yang mementingkan jasmani berserta pengukuran-pengukurannya itu ialah keyakinanya yang kuat, bahwa faktor-faktor keturunan biologis adalah sangat penting dalam menentukan tingkah laku.

  1. 1.        Dimensi-dimensi temperamen
  2. Cara kerja Sheldon
  3. Sheldon mengumpulkan sifat-sifat yang telah terdapat di dalam kepustakaan mengenai kepribadian. Kemudian semua sifat itu direduksikan dengan jalan menyatukan sifat-sifat yang mempunyai overlapping dan menghilangkan yang tidak significant.
  4. Kemudian dicari kelompok sifat (cluster of traits) dengan pedoman: untuk masuk dalam satu kelompok harus punya angka korelasi serendah-rendahnya 0,60 dan untuk masuk dalam kelompok yang berbeda harus punya angka korelasi setinggi-tingginya 0,30. Dengan cara tersebut  maka didapatkan tiga kelompok komponen primer temperamen.
  5. Komponen-komponen  Primer Daripada Temperamen
  6. Komponen primer viscerotonia. Sifat-sifat temperamen komponen ini ialah:

a). sikapnya tidak tegang (relaxed),

b). suka hiburan,                                                 

c). gemar makan-makan,

d). besar kebutuhannya akan resonansi dari orang lain,

e). tidurnya nyenyak,

f). bila menghadapi kesukaran membutuhkan orang lain.

  1. Komponen primer somatotonia. Sifat-sifat temperamen komponen ini  ialah:

a). sikapnya gagah,

b). perkasa (energetic),

c). kebutuhan bergerak besar,

d). suka berterus terang,

e). suara lentang,

f). nampaknya lebih dewasa dari sebenarnya,

g). bila menghadapi kesukaran butuh melakukan gerakan-gerakan.

  1. Komponen primer cerebrotonia. Sifat-sifat temperamen komponen ini ialah:

      a). sikapnya kurang gagah ragu-ragu,

      b). reaksinya cepat,

      c). kurang berani bergaul dengan orang banyak,

      d). kurang berani berbicara di depan orang banyak,

      e). kebiasaan-kebiasaannyatetap,hidup teratur,

      f). suara kurang bebas,

      g). tidur kurang nyenyak,

      h). Nampak lebih muda dari yang sebenarnya,

       i). bila menghadapi kesukaran butuh mengasingkan diri.

Ketiga komponen itu dengan sifat-sifat yang dicakupnya merupakan Scale of Temperamen, yang juga mempunyai skala 1 sampai dengan 7.

  1.  Hubungan antara Jasmaniah dan Tingkah Laku (Temperamen)

Hasil penyelidikan Sheldon selama lima tahun mengenai 200 mahasiswa laki-laki dikemukakannya dalam “The varieties of temperament”.

  1. Hubungan antara Jasmani dan Gangguan-gangguan Kejiwaan

Penyelidikan-penyelidikan Sheldon tidak hanya terbatas pada orang-orang yang normal saja, tetapi meluas juga pada masalah-masalah ketidaknormalan.

Hasil penyelidikannya mengenai ini (bersame-sama dengan With Katz) diterbitkan pada tahun 1948. Sebagai hasil penyelidikannya terhadap penderita penyakit kejiwaan  selama beberapa tahun Sheldon mengemukakan konepsi tentang gangguan kejiwaan yang terdiri dari tiga dimensi primer. Ketiga dimensi itu pada pokoknya berhubungan dengan kategori-kategori yang biasa digunakan dalam diagnosis psikiatris.

Adapun komponen-komponen psikiatris itu ialah:

1).  Affetive, bentuknya yang ekstrem terdapat pada psikosis jenis manis-depresif.

2).  Paranoid, yang bentuk ekstremnya terdapat pada para penderita psikosis jenis paranoid.

3). Heboid, yang bentuk ekstremnya terdapat pada para penderita hebephrenia.

Sheldon sendiri menyatakan, bahwa penyelidikannya dalam lapangan ini masih harus diuji tetapi cara yang dipakainya member harapan yang baik di masa depan.

  1. Dalam lapangan ini Sheldon melakukan penyelidikan selama delapan tahun. Yang diselidiki 400 pemuda (1939 sampai 1942) kemudian untuk penyelidikan lanjutan diselidiki 200 orang di antara mereka.

Dari penyelidikan-penyelidikannya itu ternyata, bahwa pemuda-pemuda nakal itu sebagian besar termasuk pada golongan mesomorph yang endomorphis.

  1. Beberapa Perumusan Teoritis

Sheldon mengemukakan, bahwa faktor-faktor konstitusional yang biasanya diabaikan dalam psikologi di Amerika Serikat itu juga penting. Dalam hubungan dengan hal-hal di atas itu ada beberapa hal teoritis yang perlu dikemukakan di sini:

  1. Faktor-faktor yang menjadi perantara dalam hubungan antara jasmani dan temperamen
    1. Individu yang memiliki tipe jasmani tertentu kiranya mendapatkan cara-cara bertingkah laku tertentu yang efektif, sedangkan individu yang bertipe jasmani lain akan harus menggunakan cara-cara bertingkah laku yang lain supaya dapat efektif.
    2. Kemungkinan lain ialah, bahwa hubungan antara jasmani dan temperamen diantarai oleh anggapan yang stereotipis yang ada dalam kebuduyaan mengenai macam-macam tingkah laku yang seharusnya dilakukan oleh orang yang berbeda-beda tipe jasamninya itu.
    3. Kemungkinan yang lain: pengalaman atau pengaruh lingkungan cenderung untuk meninmbulkan tipe tubuh tertentu: ini selanjutnya akan menimbulkan kecenderungan tingkah laku tertentu.
    4. Kemungkinan keempat ialah: hubungan antara bentuk jasmani dan tingkah laku itu karena berkerja samanya faktor-faktor genetis.
    5. Banyak ahli-ahli teori kepribadian meletakan titik berat pendapatnya pada segi-segi psikologi tingkah laku manusia (Murray, Murphy, Freud, Adler, dan sebagainya), namun tidak banyak yang metodenya menunjukan keselarasan dengan pangkal duga ini. Dalam banyak hal pendapat Sheldon dapat dianggap mementingkan factor-faktor biologis sebagai dasar tingkah laku manusia.
    6. Tekanan terhahdap faktor organisasi dan medan

Walaupun Sheldon berhasil memisahkan dan mengukur dimensi-dimensi untuk mencandra jasmani dan temperamen, namun dia tidak tidak yakin bahwa penyelidikan dimensi itu satu persatu akan membawa hasil yang baik.

  1. Perkembangan individu

Sheldon sedikit sekali mempersoalkan  perkembangan individu. Ia mengatakan bahwa kejadian-kejadian tertentu pada masa kanak-kanak mungkin berpengaruh terhadap penyesuain diri pada masa dewasa, tetapi dia tidak menganggap bahwa kejadian-kejadian pada masa kanak-kanak yang demikian itu memainkan peranan sebagai sebab.

  1. Proses tak sadar

Pentingnya factor-faktor tingkah laku yang tak disadari diakui oleh Sheldon: tetapi dia menganggap bahwa faktor tak sadar ini sama dengan factor-faktor biologis yang pokok/dasar. Sheldon (1946) menyatakan, bahwa ketidak sadaran adalah tubuh dan sebab mengapa begitu sukar orang mengatakan ( merumuskan) ketidaksadarannya atau hal-hal yang terjadi dalam tubuhnya karena bahasa tidak disusun secara sistematis untuk mengatakan apa yang sedang terjadi dalam tubuh.

2. Pokok-pokok Teori William H. Sheldon

a. Struktur Tubuh (Jasmani)

     Sheldon menentukan sejumlah kecil variabel jasmaniah dan tempramen yang tegas, yang dianggapnya merupakan hal yang terpenting dalam tingkah laku manusia (kendatipun dia tidak menutup kemungkinan untuk penyelidikan-penyelidikan yang lebih teliti/mengunsur). Sheldon tidak hanya ingin mendapatkan kategori untuk klasifikasi dan deskripsi tubuh mausia saja, tetapi tujuannya lebih jauh lagi yaitu untuk mendapatkan apa yang disebut biological identification tag. Sheldon berpendapat bahwa faktor-faktor genetis dan biologis memainkan peranan yang menentukan dalam perkembangan individu. Dia percaya juga, bahwa orang mungkin mendapatkan representasi daripada faktor-faktor tersebut dengan melalui sejumlah pengukuran yang didasarkan pada jasmani. Dalam pandangan Sheldon ada suatu struktur biologis hipotesis, yaitu morphogenotipe yang menjadi dasar jasmani yang nampak (phenotipe), dan yang memainkan peranan penting tidak saja dalam menentukan perkembangan jasmani, tetapi juga dalam pembentukan tingkah laku. Somatotipe merupakan suatu usaha untuk mengukur morphogenotipe itu, walaupun harus bekerja dengan cara tidak langsung dan terutama bersandar kepada pengukuran jasmaniah (phenotipe).

Cara pendekatan Sheldon untuk mengukur aspek jasmaniah individu, dan selanjutnya dikaji usahannya untuk menentukan komponen terpenting menjadi dasar tingkah laku manusia.

      1. Dimensi-dimensi jasmaniah

     Sheldon memulai usahanya secara induktif, soal pertama-tama ialah mendapatkan sejumlah besar tubuh/jasmani yang dapat diselidiki kembali. Untuk membuat cara ini supaya praktis, dia membuat foto-foto tubuh(dari depan dan dari samping), dengan cara yang distandardisasikan. Cara ini disebutnya : somatotype Performance Test).

     Pada usaha pertama Sheldon mengumpulkan foto-foto mahasiswa-mahasiswa laki-laki sebanyak 4.000. Foto-foto ini lalu diperiksa dengan teliti oleh sejumlah penilai yang bermaksud untuk mendapatkan variabel-variabel pokok yang merupakan dasar daripada variasi jasmani. Apabila suatu sifat dianggap merupakan komponen pokok(primer), maka lalu dinilai dengan kriteria berikut ini:

(1) Mungkinkah menentukan kedudukan keempat ribu orang coba(subyek) itu dengan sifat-  sifat tersebut?

(2) Dapatkah penilai-penilai itu (yang bekerja secara independent satu sama lain) mencapai persesuaian dalam menentukan kedudukan jasmani atas dasar sifat-sifat tersebut?

(3) Mungkinkah mempertimbangkan/mempertimbangkan variabel itu dalam kombinasi dengan variabel-variabel lain yang telah ditentukan lebih dahulu?

  1. Komponen-komponen Jasmani Primer

     Setelah lama menyelidiki dan menilai dengan teliti foto-foto tersebut Sheldon dengan pembantu-pembantunya menganbil kesimpulan, bahwa ada tiga komponen atau dimensi jasmaniah itu. Ketiga dimensi ini merupakan inti daripada teknik pengukuran struktur tubuh. Komponen-komponen itu ialah :

1)                Endomorphy

2)                Mesomorphy, dan

3)                Ectomorphy

                 Penggunaan ketiga istilah itu dihubungkan dengan tiga lapisan pada terbentuknya foetus manusia (endoderm,mesoderm dan ectoderm).Domibasi dari alat-alat yang berasal dari lapisan tertentu menentukan dominasi daripada komponen tertentu. Dengan demikian maka menurut Sheldon ada tiga tipe pokok daripada jasmani manusia, yaitu:

1)                Tipe Endomorph (komponen endomorphy dominant)

                       Individu yang komponen endomorphynya tinggi sedangkan kedua komponen lainnya rendah, ditandai oleh: alat-alat dalam dan seluruh sistem digestif (yang berasal dari endoderm) memegang peranan terpenting. Nampaknya keluar: lembut, gemuk, berat badan relatif rendah.

2)                Tipe Mesomorph (komponen mesomorphy dominant)

           Individu yang komponen mesomorphynya tinggi sedangkan kedua komponen lainnya rendah, maka bagian-bagian tubuhnya yang berasal dari mesoderm relatif berkembang lebih baik daripada yang lain: otot-otot, pembuluh darah, jantung dominant. Nampaknya dari luar kokoh, .keras, otot kelihatan bersegi-segi, tahan sakit. (Banyak diantara olahragawan, pengelana, tentara, termasuk tipe ini.

3)                Tipe Ectomorph (komponen ectomorphy dominant)

           Pada golongan ini organ-organ yang berasal dari ectoderm yang terutama berkembang ( kulit, sistem syaraf memainkan peranan terpenting). Nampaknya orang yang ectomorph itu: jangkung, dada kecil dan pipih, lemah, otot-otot hampir tidak nampak berkembang.

                 Keempat ribu orang coba itu diukur dengan teliti dan diberi tempat kedudukan (urutan, rank) atas dasar ketiga komponen itu. S.S. Stevens, teman sekerja Sheldon menemukan mesin yang sangat membantu pengerjaan data yang telah didapatkan itu.

Seperti yang telah dikatakan, somatotipe ini adalah alat untuk mengira-ngirakan kmomponen biologis dari tingkah laku dasar dan tak berubah (morphogenotipe) dengan jalan mengukur keadaan tunuh yang nampak keluar (phenotipe). Pengukuran itu mengenai: kepala, leher, dada, lengan, panggul, perut, kaki. Jadi somatotipe itu merupakan kompromis antara morphogenotipe dan phenotipe.

                 Sheldon mengatakan bahwa apabila orang mau benar-benar memperoleh perkiraan yang sebaik-baiknya tentang morphogenotipe secara ideal, dia tidak cukup hanya menyelidiki individu itu sepanjang sejarah hidupnya, melainkan juga nenek moyang dan keturunannya.

                 Kecuali ketiga tipe yang telah dikatakan dimuka itu, maka ada enam tipe campuran. Di antara tiap dua tipe pokok ada dua tipe campuran. Adapun tipe-tipe campuran tersebut yaitu:

  1.   Endomorph yang mesomorphis
    1. Endomorph yang ectomorphis
    2. Mesomorph yang endomorphis
    3. Mesomorph yang ectomorphis
    4. Ectomorph yang endomorphis
    5. Ectomorph yang mesomorphis

 

 

  1. Komponen-komponen Jasmani Sekunder

     Disamping komponen-komponen jasmani primer itu Sheldon mengemukakan adanya tiga komponen jasmani sekunder yaitu:

(1)             Displasia

           Dengan meminjam istilah dari kretschmer, istilah itu dipakai oleh Sheldon untuk menunjukan setiap ketidaktepatan dan ketidaklengkapan campuran ketiga komponenprimer itu pada berbagai daerah daripada tubuh. Dalam penyelidikan-penyelidikan yang mula-mula Sheldon menemukan, bahwabanyak displasia berhubungan dengan ectomorphy, dan lebih banyak pada wanita daripada laki-laki; penyelidikan yang lebih kemudian membuktikan, bahwa lenih banyak displasia pada para penderita psikosis daripada mahasiswa.

(2)             Gynandromorphy

Gynandromorphy adalah komponen jasmani sekunder yang kedua. Komponen ini menunjukkan sejauh manakah jasmani memiliki sifat-sifat yang biasannya terdapat pada jenis kelamin lawannya. Komponen ini dinyatakan oleh Sheldon dengan huruf “g”. Jadi individu laki-laki yang mempunyai komponen “g” tinggi akan memiliki tubuh yang lembut, panggul besar, dan sifat-sifat wanita yang lain. Secara teori sifat-sifat ini dapat dinyatakan dengan angka 1 sampai 7. Angka 1 menunjukkan tidak adannya sifat-sifat dari jenis kelamin lawannya, sedangkan angka 7 menunjukan kebancian (hermaphroditismus).

(3)             Texture ( tampang )

Komponen jasmani sekunder yang ketiga, dan barangkali yang terpenting, ialah tampang (texture) yang oleh Sheldon ditandai dengan huruf “t” (dari texture). Adapun yag dimaksud dengan tampang (texture) oleh Sheldon ialah bagaimana individu itu nampaknya keluar (jawa: dedeg-piyadeg).

2. Konstansi Somatotipe

            Suatu hal yang para ahli psikologi konstitusional berbeda-beda pendapatnya ialah sejauh manakah klasifikasi dan pencandraan yang didasarkan atas ukuran-ukuran obyektif daripada tubuh itu diharapkan tetap. Perubahan umur dan variasi makanan kirannya memaksa orang pada umumnya untuk mengakui sifat berubah-ubahnya somatotipe itu. Namun, Sheldon yakin, bahwa tidak ada perubahan makanan yang dapat mengubah ukuran-ukuran dari somatotipe yang satu ke somatotipe yang lain.

Memang mungkin faktor-faktor makanan menimbulkan perubahan pada ukuran-ukuran indivudu, akan tetapi itu tidak akan mengubah somatotipe yang sebenarnya.

            Hipotesis tentang konstansi somatotipe ini dibuktikan oleh adannya kemiripan dalam distribusi bermacam-macam tipe itu pada umur yang berbeda-beda. Misalnnya Sheldon (1940) mengemukakan hasil penelitiannya bahwa orang-orang yang berumur 40 tahun menunjukkan berbagai variasi somatotipe yang kira-kira sama dengan mahasiswa-mahasiswa (masih muda). Apabila umur membawa perubahan pokok dalam somatotipe, semestinya umur yang berbeda itu akan menunjukan variasi somatotipe yang tidak sama.

            Tetapi pada pendapatnya yang lebih kemudian Sheldon mengubah pendiriannya itu; konstansi somatotipe itumembutuhkan adannya konstansi dalam makanan dan tak adannya hal-hal yang patologis.

  1. Analisis Tingkah Laku ( Kepribadian)

                        Walaupun telah mempunyai alat yang tetap untuk menilai aspek jasmaniah daripada manusia, namun ahli-ahli psikologo konstitusional harus membuat atau meminjam metode lain untuk menilai tingkah laku apabila dia benar-benar menyelidiki hubungan jasmanin dan tingkah laku atau kepribadian. Dalam hal ini Sheldon bermula dari pangkal duga bahwa walaupun nampaknnya ada banyak dimensi atau variabel dalam tingkah laku, tetapi pada dasarnnya hanya ada sejumlah kecil komponen-komponen dasar yang diharapkan akan menjadi dasar tingkah laku yang nampak kompleks itu. Sheldon menyusun suatu cara untuk mengukur komponen-komponen dasar itu atas dasar pendapat-pendapat yang telah ada dan disempurnakan dengan pengetahuan klinisnnya serta pengalaman-pengalamannya.

  1. Dimensi-dimensi Temperamen
    1. Cara kerja Sheldon
      1. Sheldon mengumpulkan sifat-sifat yang telah terdapat di dalam kepustakaan mengenai kepribadian. Dari penelitiannya ini dia mendapatkan sejumlah 650 macam sifat. Jumlah ini ditambah dengan penemuan Sheldon sendiri.

Kemudian semua sifat itu direduksikan dengan jalan menyatukan sifat-sifat yang mempunyai overllaping dan menghilangkan yang tidak significant. Akhirnya Sheldon dengan pembantu-pembantunya mendapatkan 50 sifat yang merupakan representasi daripada semua sifat-sifat tersebut.

  1. Kemudian dicari kelompok sifat (cluster of traits) dengan pedoman: untuk masuk dalam satu kelompok harus punya angka kolerasi serendah-rendahnya 0,60 dan untuk masuk dalam kelmpok yanmg berbeda harus punya angka kolerasi setinggi-tingginya 0,30. Dengan cara tersebut maka didapatkan tiga kelmpok komponen primer temperamen.
  2. Komponen-komponen Primer Daripada Temperamen

Ketiga kelompok sifat-sifat temperamen itu meliputi 22 dari 50 sifat yang telah dikemukakan di atas. Ketiga komponen itu mula-mula dinamakan faktor I.II.III., kemudian dinamakan viscerotonia, somatotonia dan cerebrotonia.

  1. Komponen primer temperamen yang pertama dinamakannya viscerotonia, karena kelompok sifat-sifat yang dicakupnya berhubungan dengan fungsi dan anatomi alat-alat visceral/digestif. Orang yang viscerotonis itu mempunyai alat pencernaan yang relatif besar dan panjang, dengan hati besar.
  2. 2.    Dimensi-dimensi temperamen
  3. Cara kerja Sheldon
  4. Sheldon mengumpulkan sifat-sifat yang telah terdapat di dalam kepustakaan mengenai kepribadian. Kemudian semua sifat itu direduksikan dengan jalan menyatukan sifat-sifat yang mempunyai overlapping dan menghilangkan yang tidak significant.
  5. Kemudian dicari kelompok sifat (cluster of traits) dengan pedoman: untuk masuk dalam satu kelompok harus punya angka korelasi serendah-rendahnya 0,60 dan untuk masuk dalam kelompok yang berbeda harus punya angka korelasi setinggi-tingginya 0,30. Dengan cara tersebut  maka didapatkan tiga kelompok komponen primer temperamen.
  6. Komponen-komponen  Primer Daripada Temperamen
  7. Komponen primer viscerotonia. Sifat-sifat temperamen komponen ini ialah:

a). sikapnya tidak tegang (relaxed),

b). suka hiburan,

c). gemar makan-makan,

d). besar kebutuhannya akan resonansi dari orang lain,

e). tidurnya nyenyak,

f). bila menghadapi kesukaran membutuhkan orang lain.

  1. Komponen primer somatotonia. Sifat-sifat temperamen komponen ini  ialah:

a). sikapnya gagah,

b). perkasa (energetic),

c). kebutuhan bergerak besar,

d). suka berterus terang,

e). suara lentang,

f). nampaknya lebih dewasa dari sebenarnya,

g). bila menghadapi kesukaran butuh melakukan gerakan-gerakan.

  1. Komponen primer cerebrotonia. Sifat-sifat temperamen komponen ini ialah:

      a). sikapnya kurang gagah ragu-ragu,

      b). reaksinya cepat,

      c). kurang berani bergaul dengan orang banyak,

      d). kurang berani berbicara di depan orang banyak,

      e). kebiasaan-kebiasaannyatetap,hidup teratur,

      f). suara kurang bebas,

      g). tidur kurang nyenyak,

      h). Nampak lebih muda dari yang sebenarnya,

       i). bila menghadapi kesukaran butuh mengasingkan diri.

Ketiga komponen itu dengan sifat-sifat yang dicakupnya merupakan Scale of Temperamen, yang juga mempunyai skala 1 sampai dengan 7.

  1.  Hubungan antara Jasmaniah dan Tingkah Laku (Temperamen)

Hasil penyelidikan Sheldon selama lima tahun mengenai 200 mahasiswa laki-laki dikemukakannya dalam “The varieties of temperament”.

 

  1. Hubungan antara Jasmani dan Gangguan-gangguan Kejiwaan

Penyelidikan-penyelidikan Sheldon tidak hanya terbatas pada orang-orang yang normal saja, tetapi meluas juga pada masalah-masalah ketidaknormalan.

Hasil penyelidikannya mengenai ini (bersame-sama dengan With Katz) diterbitkan pada tahun 1948. Sebagai hasil penyelidikannya terhadap penderita penyakit kejiwaan  selama beberapa tahun Sheldon mengemukakan konepsi tentang gangguan kejiwaan yang terdiri dari tiga dimensi primer. Ketiga dimensi itu pada pokoknya berhubungan dengan kategori-kategori yang biasa digunakan dalam diagnosis psikiatris.

Adapun komponen-komponen psikiatris itu ialah:

1).  Affetive, bentuknya yang ekstrem terdapat pada psikosis jenis manis-depresif.

2).  Paranoid, yang bentuk ekstremnya terdapat pada para penderita psikosis jenis paranoid.

3). Heboid, yang bentuk ekstremnya terdapat pada para penderita hebephrenia.

Sheldon sendiri menyatakan, bahwa penyelidikannya dalam lapangan ini masih harus diuji tetapi cara yang dipakainya member harapan yang baik di masa depan.

  1. Dalam lapangan ini Sheldon melakukan penyelidikan selama delapan tahun. Yang diselidiki 400 pemuda (1939 sampai 1942) kemudian untuk penyelidikan lanjutan diselidiki 200 orang di antara mereka.

Dari penyelidikan-penyelidikannya itu ternyata, bahwa pemuda-pemuda nakal itu sebagian besar termasuk pada golongan mesomorph yang endomorphis.

  1. Beberapa Perumusan Teoritis

Sheldon mengemukakan, bahwa faktor-faktor konstitusional yang biasanya diabaikan dalam psikologi di Amerika Serikat itu juga penting. Dalam hubungan dengan hal-hal di atas itu ada beberapa hal teoritis yang perlu dikemukakan di sini:

  1. Faktor-faktor yang menjadi perantara dalam hubungan antara jasmani dan temperamen
    1. Individu yang memiliki tipe jasmani tertentu kiranya mendapatkan cara-cara bertingkah laku tertentu yang efektif, sedangkan individu yang bertipe jasmani lain akan harus menggunakan cara-cara bertingkah laku yang lain supaya dapat efektif.
    2. Kemungkinan lain ialah, bahwa hubungan antara jasmani dan temperamen diantarai oleh anggapan yang stereotipis yang ada dalam kebuduyaan mengenai macam-macam tingkah laku yang seharusnya dilakukan oleh orang yang berbeda-beda tipe jasamninya itu.
    3. Kemungkinan yang lain: pengalaman atau pengaruh lingkungan cenderung untuk meninmbulkan tipe tubuh tertentu: ini selanjutnya akan menimbulkan kecenderungan tingkah laku tertentu.
    4. Kemungkinan keempat ialah: hubungan antara bentuk jasmani dan tingkah laku itu karena berkerja samanya faktor-faktor genetis.
    5. Banyak ahli-ahli teori kepribadian meletakan titik berat pendapatnya pada segi-segi psikologi tingkah laku manusia (Murray, Murphy, Freud, Adler, dan sebagainya), namun tidak banyak yang metodenya menunjukan keselarasan dengan pangkal duga ini. Dalam banyak hal pendapat Sheldon dapat dianggap mementingkan factor-faktor biologis sebagai dasar tingkah laku manusia.
    6. Tekanan terhahdap faktor organisasi dan medan

Walaupun Sheldon berhasil memisahkan dan mengukur dimensi-dimensi untuk mencandra jasmani dan temperamen, namun dia tidak tidak yakin bahwa penyelidikan dimensi itu satu persatu akan membawa hasil yang baik.

  1. Perkembangan individu

Sheldon sedikit sekali mempersoalkan  perkembangan individu. Ia mengatakan bahwa kejadian-kejadian tertentu pada masa kanak-kanak mungkin berpengaruh terhadap penyesuain diri pada masa dewasa, tetapi dia tidak menganggap bahwa kejadian-kejadian pada masa kanak-kanak yang demikian itu memainkan peranan sebagai sebab.

  1. Proses tak sadar

Pentingnya factor-faktor tingkah laku yang tak disadari diakui oleh Sheldon: tetapi dia menganggap bahwa faktor tak sadar ini sama dengan factor-faktor biologis yang pokok/dasar. Sheldon (1946) menyatakan, bahwa ketidak sadaran adalah tubuh dan sebab mengapa begitu sukar orang mengatakan ( merumuskan) ketidaksadarannya atau hal-hal yang terjadi dalam tubuhnya karena bahasa tidak disusun secara sistematis untuk mengatakan apa yang sedang terjadi dalam tubuh.